Senin, 17 September 2012

22 September

Ada berapa angka lagi menuju tanggal  itu? *Mikir sambil guling-guling, pijit-pijit kepala, testing temperature, adek panik bawain minyak kayu putih, juga ibu yang bawa kompresan, si ayah nelpon dokter*

Itu... *sesenggukan di pojok kamar*

Bukan tanggal kelahiranku, ataupun kelahiran kucingnya tetangga. Itu tanggal kehadiran sahabat terkasih sepanjang masa. Roku, panggilan untuknya.



Kemarin kau masih ada di sini. Dengan manisnya, kau mendengarkan curcolanku. Mendengarkan cerita lucu yang tak kunjung membuatmu tertawa. Sampai hal yang tidak diketahui oleh manusia terdekatku sekalipun, aku ceritakan padamu. Entah karena kau pendengar setia yang tidak perlu dikhawatirkan adanya penghianatan, ataukah karena memang aku yang sering menjadikanmu pelampiasan ketika mereka enggan membagi bahunya denganku.

Roku…                                                                                                        
Maafkan aku yang sering membuatmu kelelahan. Membawamu ke sana ke mari, tak peduli kau mengeluh karena terguncang-guncang dalam ransel. Rindu rasanya mengingat kenangan kita bersama. Walau itu kenangan yang sering mengintimidasimu. Memaksamu kerja rodi di waktu-waktu tertentu. Tugas numpuk, yang pada akhirnya kau tidak mati semalaman. Ataukah tugas renggang, yang juga sama tidak mematikanmu semalaman. Baiklah itu bukan di waktu tertentu, tapi disetiap waktu.

Roku…
Maafkan aku yang sering lalai dalam merawatmu. Meski rasanya akulah satu-satunya manusia di dunia  yang sangat memerhatikanmu. Namun masih saja, orang-orang rumah sering mendapati kau ada di sisi tempat tidur yang sangat membahayakan keselamatanmu, ataukah di bawah kaki si kakak, dan bahkan sempat terjatuh dari meja ke lantai saat ngampus. Mengingat semua itu, rasanya ingin mengulang waktu dan hal-hal itu tidak akan kubiarkan ada.

Baiklah, sudah waktunya berhenti meratapimu. Nasi sudah menjadi bubur, dan buburnya menjelma menjadi bibir yang melengkung tak karuan alias manyun.

Ini adalah hari kesekian Roku di Rumah Sakit Spesialis Keroku-rokuan. Tidak bisa kubayangkan bagaimana mereka mempreteli Si Roku. Rokuu, kumohon bertahanlah. Selamatkan folder-folder yang kerapiannya selangit *wow*. Kau tahu bagaimana rasanya ke kampus tanpamu? Seperti kopi tanpa gula. Manis.


0 komentar:

:10 :11 :12 :13 :14 :15 :16 :17
:18 :19 :20 :21 :22 :23 :24 :25
:26 :27 :28 :29 :30 :31 :32 :33
:34 :35 :36 :37 :38 :39

Posting Komentar

About me

 
;