Dalam makna memberi itu posisi kita sangat kuat: kita tak perlu kecewa atau terhina dengan penolakan, atau lemah atau melankolik saat kasih kandas karena takdir-Nya. Sebab di sini kita justru sedang melakukan sebuah “pekerjaan jiwa” yang besar dan agung: MENCINTAI.
- M. Anis Matta
“Ya Rasulullah”, kata Umar perlahan, “Aku mencintaimu seperti kucintai diriku sendiri.”
Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tersenyum. “Tidak wahai Umar. Engkau harus mencintaiku melebihi cintamu pada diri dan keluargamu.”
“Ya Rasulullah”, kata Umar, “Mulai saat ini engkau lebih kucintai daripada apapun di dunia ini.”
“Nah, begitulah wahai Umar.”
Sebegitu mudahkah bagi orang semacam Umar ibn al-Khathtab menata ulang cintanya dalam sekejap? Sebegitu mudahkah cinta diri digeser ke bawah untuk memberi ruang lebih besar bagi cinta pada sang Nabi? Dalam waktu yang sangat singkat. Hanya sekejap.
Bagi kebanyakan orang tidak semudah itu. Cinta berhubungan dengan ketertawanan hati yang tak gampang dialihkan. Tetapi Umar bisa. Dan mengapa beliau bisa?
Ternyata cinta bagi Umar adalah kata kerja. Maka menata ulang cinta baginya hanyalah menata ulang kerja dan amalnya dalam mencintai. Ia tak berumit-rumit dengan apa yang ada dalam hati. Biarlah hati menjadi makmum bagi kerja-kerja cinta yang dilakukan oleh amal shalihnya.
Persoalan cinta menjadi tidak sederhana, karena cinta dalam latar pikir kita adalah persoalan dicintai. Itu adalah sesuatu yang diluar kendali penuh jiwa kita. Kita dicintai atau tidak bukanlah suatu hal yang bisa kita paksakan. Dunia di luar sana punya perasaan sendiri, yang kadang secara aneh memutuskan siapa yang layak dan tak layak dicintai. –Salim A. Fillah
to be love vs to love


0 komentar:
Posting Komentar