Pelangi, ciptaan Allah yang begitu indah. Keindahannya ada karena perbedaannya. Sungguh saya jatuh cinta pada pelangi.
Ketika orang Jepang kuno dan Jerman kuno masih menganggapnya sebagai jembatan para dewa, orang islam sudah menelitinya secara rasional.
Dari sekian banyak ilmuan, yang meneliti tetang pelangi, muncullah seorang lmuan muslim yang mampu menerangkan formasi pembentukan pelangi secara pas mendekati teori elangi modern saat ini. Dia adalah Kamaluddin al-Farizi murid dari Qutb al-Din al-Shirazi.
Al Farizi dikenal sebagai ilmuan yang berhasil menjelaskan formasi pelangi menggunakan prinsip tetes air hujan, seperti yang kita pahami sekarang. Hasil penelitiannya dibukukan dalam sebuah kitab monumental berjudul Tanqih al-Manazir. Meskipun hanya berisi tentang komentar, penjelasan, dan penulusuran kesalahan-keslahan kitab al-Minzir karya Ibn al-Haytam, Tanqih al-Minzir dianggap sebagai karya pertama yang mampu menjelaskan proses pembentukan pelangi secara tepat. Dibandingkan karya Ibn al-Haytam, karya al-Farizi dianggap lebih rasional dan bisa dibuktikan.
Antara teori pelangi al-Farizi dan Ibn al-Haytam tentu tidak bisa dipisahkan begitu saja. Dengan penuh sadar, al-Farizi mengakui bahwa ia juga sepakat dengan beberapa pendapat Ibn al-Haytam meskipun dalam beberapa hal ia berbeda. In the other word, al-Farizi juga mewarisi pemikiran ilmuwan muslim lain semacam Ibn al-Haytam. Beberapa dalil yang ia sepakati dari Ibn al-Haytam diantaranya adalah:
1. Cahaya datang ke bumi dan mengenai bagian luar permukaan bumi
2. Sudut dibentuk oleh cahaya yang disampingkan dari bumi ke suatu titik di luar permukaan bumi dan membentuk pusat sudut tersebut yang berasal dari dua kali sudut yang disampingkan
3. Cahaya datang ke permukaan bumi dimana cahaya tersebut disampingkan dari pusat melewati titik pertama
Cahaya, Bola Kaca, Mata, dan Pelangi
Untuk menjelaskan proses terjadinya pelangi, al-Farizi punya cara sendiri. Ia menggunakan media cahaya (perwujudan sinar matahari) dan benda bulat semacam bola kaca transparan. Ia tempatkan sebah bola kaca di ruang yang gelap. Beberapa saat kemudian, dari sebuah celah di ruang tersebut ia pancarkan cahaya menuju bla transparan tadi. Apa yang terjadi? Muncul sebuah gambar bola di sekitar sumber cahaya tapi dalam keadaan terbalik, kecil, dan terpisah-pisah. Nah, unik bukan? Itulah yang nentinya akan menuntun penjelasan tentang pelangi.
Melalui eksperimen tersebut, al-Farizi menjelaskan bahwa sebenarnya pelangi merupakan hasil pemantulan atau pembiasan cahaya matahari yang mengenai tetesan-tetesan air hujan sebelum sampai ke permukaan bumi. Sesampainya di bumi, pantulan dan pembiasan cahaya tadi dipantulkan dan dibiaskan lagi menuju mata kita. Sekedar mengingatkan, beberapa bagian permukaan bumi juga memiliki sifat memantulkan atau membiaskan cahaya mirip bola transparantadi. So, kalau ada sinar yang dipantulkan dan dibiaskan sebelum sampai ke mata kita, wajar dong. Pantulan dan pembiasan yang smapai ke mata kita yang berwarna-warni itulah yang disebut pelangi.
Selain itu al-Farizi juga menjelaskan bahwa cahaya yang datang ke permukaan bumi itu memiliki sudut yang pasti dan tetap. Cahaya tersebut kemudian jatuh pada satu titik dan diikuti oleh cahaya lain di titik sekitarnya sehingga sebagian memantul dan sebagian membias. Karena cahayanya banyak dan sudut cahaya yang sampai ke mata juga banyak, jadinya tampak warna-warna. Kedua, perubahan dan jumlah sinar yang jatuh ke permukaan bumi sebenarnya bisa diketahui. Al-Farizi menjelaskan hal tersebut sebagai berikut:
1. Pada awalnya cahaya yang datang hanya mengakibatkan dua pembiasan
2. Kemudian terjadi dua pembiasan dan satu pantulan
3. Dilanjutkan proses ketiga ketika terjadi dua pembiasan dan dua pantulan
Sebenarnya, orang Islam-lah yang mempelopori penemuan-penemuan penting di alam raya ini. Bayangkan, di saat orang Jerman kuno dan Jepang kuno meyakini pelangi sebagai jembatan para dewa untuk mengelili dunia, orang Cina menganggap pelangi perwujudan Ying dan Yang, orang Islam sudah menemukan penemuan rasional yang relevan dengan zaman sekrang. Nah, jika dahulu ilmuan kita bisa berjaya, sudah pasti ilmuan muda muslim pasti bisa merebut kembali tahta kejayaan itu. Makanya mari semangat belajar dan bereksperimen! :D
Diambil dari berbagai sumber


0 komentar:
Posting Komentar