Minggu, 14 Oktober 2012

Kau, Aku dan Dandelion



Adalah Dandelion. Yang tidak penting kapan kami mengenalnya. Karena kenapa kami mengaguminya. Satu-satunya karena ia. Yang tidak peduli meski tumbuh dekat ilalang yang terabaikan.

Pagi itu, kalian mungkin belum sarapan. Mata yang belum menunjukkan sudut tangkap retina pada kertas soal yang baru saja dibagikan. Otak yang belum tersetting untuk  berkontribusi menuangkan isinya yang sejak tadi malam entah terisi atau tidak. Alhasil, pena yang sejak tadi dipersiapkan hanya tampak beku dari tangan yang telah lama dingin di atas ganggang motor. Baiklah, lebih baik memang saya kembali pada topik tulisan ini. Ada kau, aku dan Dandelion.

Ima:  “Dmnq? Bawaka dandelion”
*bergeming*
*masih bergeming*
*menatap soal tajam*
*dimulai*
*SELESAI*
Saya: “Manami?”
Ima: (senyam-senyum gaje, sama seperti kalian yang belum sarapan) “Lama sekaliki, habismi kutiup”
Sebagian cerita disensor demi keamanan bersama.
***
Dan akhirnya cerita berlanjut, dengan memperlihatkan ini:

Indah bukan?


Bola-bola putu *oke ini versi gaje* atau yang wikipedia katakan sebagai Randa Tapak atau yang dikenal dengan nama Dandelion, adalah bagian dari Taraxacum, sebuah genus besar dalam keluarga Asteraceae. Nama Randa Tapak sendiri biasa digunakan untuk merujuk kepada sebuah tumbuhan yang memiliki bunga, dan meiliki bunga-bunga kecil yang terbang ditiup angin. Asal asli tumbuhan ini adalah Eropa dan Asia, namun sudah menyebar ke segala tempat (termasuk Takalar). Yang disebut sebgai bunga dari tumbuhan ini menjadi semacam jam hayati yang secraa teratur melepaskan banyak bijinya. Biji-biji ini sesungguhnya adalah buahnya.

Kira-kira benar bunga ini mengajarkan kita tentang banyak hal. Tentang kekuatan, keikhlasan, dan  kebertahanan. Dandelion tidak pernah bertanya kepada lorong-lorong angin akan kemana ia diterbangkan.  Yang ia tahu, ia percaya walau itu gelap. Ia percaya karena ia bersahabat dengan angin. Angin satu-satunya saksi ketangguhan dirinya yang ditakdirkan untuk hidup lalu mati. Tanpa angin, mana bisa Dandelion menari sebegitu menawannya? Mana bisa membuat saya dan Ima terkesima memerhatikannya dan sempat mengira itu rambut setan. Hei, kami itu sotta berpangkat. Terlebih sahabat saya itu. Entah seberapa kali kami berasumsi gaje tentang si bola-bola putu. Menganggap dia inilah, itulah. Terlebih dari misteri siklus hidupnya yang sebegitu riweuhnya bagi kami. Sampai-sampai sempat-sempatnya ada yang beranggapan “apa iya, dalam satu pohon, ada dandelion yang warnanya kuning dan putih?” *haha kalau dipikir-pikir yang bilang ini polos juga :p*

Akhirnya proses ke-sotta-an yang berhujung bahagia. Walau beda jenis, satu genus Taraxacum-pun kami tetap bahagia melihatnya. Mereka bertaburan di kampus kami. Memang benar meniup jentik dandelion adalah hal yang mengasyikkan, tapi tetap kode etik kebiologiaan *so iya, emang ada? :p* tetap harus kami patuhi (tampaknya cuma saya, Ima jurusan keangka-angkaan rupanya). Halah.

Eits, tau tidak. Ada banyak hal yang membuat kami, dari hari ke hari semakin mengaguminya. Double W sudah menjadi rutinitas saat melihat mereka menjemput kedatangan kami di parkiran. Tak jarang, kami (saya dan Ima) berlomba memetik bunga yang baru saja tumbuh (baru tumbuh? Ya iya, secara yang kemarin sudah dipetik duluan) =.=

Yoi, hal-hal itu nangkring di bawah:

Pertama, tarian bunga yang menawan. Percaya? Sudah baca kan info dari Om Wiki tadi, katanya asal asli Dandelion itu adalah Eropa dan Asia. Tapi kini, kita bisa berjumpa dengannya di penjuru dunia manapun. Jangankan di dunia, di Takalar saja ada (Takalar memang bukan dunia, tapi kota *info penting*) Itu karena Dandelion bisa menari bersama angin. Melintasi pulau demi pulau, benua demi benua, sampai samudra sekalipun *hati-hati dengan unsur hiperbolis*.

Kedua, siklus hidupnya yang filosofis BGT.  Terlihat dari kemenawanan tariannya, jentik Dandelion memang selalu menemani lorong-lorong angin berdansa bersama. Melawan gravitasi, untuk menuju langit. Ada yang terbang ke atas bukit, kemudian jatuh di lembah pegunungan. Ada yang terbang melintasi sungai kemudian terbawa arusnya, dan terperangkap di pinggiran taman kota. Namun, tahukah kalian, perjalanaan hidup dandelion tidak sampai di situ. Kemanapun dan sejauh apapun angin menerbangkannya, jentik halus dandelion akan tetap hidup. Tak peduli seperti apa tempat yang disediakan untuknya, mereka akan tetap bertahan, akan terus tumbuh menjadi dandelion-dandelion baru. Dandelion yang siap menerbangkan kembali harapan-harapannya pada lorong-lorong angin.

Ketiga, kebebasan yang tidak tergantikan. Kenal mawar? Melati? Anggrek? Atau bunga  bangkai? Atau terserah kalian bunga apa yang kalian kenal. Mereka (sekumpulan bunga kalangan atas) yang tengah memperebutkan gobel awards dengan nominasi bunga terindah, terwangi, termahal, terpaling diminati, dan terpaling dijauhi (biar bunga bangkai bisa masuk nominasi juga). Ada Dandelion dengan kesederhanaannya yang tidak akan berganti posisi dengan mereka. Kurang lebih Dandelion akan bilang seperti ini “maaf sob, kebebasan itu mahal”. Haha. Ya kan? Faktanya memang iya. Sampai saat ini, ada tidak manusia yang sengaja memberi Dandelion pupuk kompos, vitamin, atau ditaruh di jambangan mahal layaknya Si Mawar maafin Marwan yah. Wkwk.

Keempat, nggak pasaran. Cari saja di pasar dijamin tidak ada yang jual.

Kelima, sebagai obat hati yang paling baik. Kononnya, akar Dandelion ini efektif meningkatkan aliran empedu, memperbaiki kondisi kongesti hati, inflamasi saluran empedu, hepatitis, dan batu empedu. Berhubungan dengan hati kan? Hayoo, ada yang patah hati? :p

Keenam, metamorfosa bunga ini KEREN (melambaikan tangan pada kupu-kupu, kalian punya saingan cin). Cekidot.





Dan terakhir (sebenarnya masih banyak lagi), heiii ternyata Dandelion punya banyak fans. ^^ Cari saja di Opung Gugel dengan keyword “Dandelion”, dijamin satu persatu muncul baik dalam bentuk puisi, cerita, sampai tulisan galau pemiliknya. Tidak salah Dandelion memang multi fungsi. Haha. Sampai jumpa. 

0 komentar:

:10 :11 :12 :13 :14 :15 :16 :17
:18 :19 :20 :21 :22 :23 :24 :25
:26 :27 :28 :29 :30 :31 :32 :33
:34 :35 :36 :37 :38 :39

Posting Komentar

About me

 
;