Adalah
Dandelion. Yang tidak penting kapan kami mengenalnya. Karena kenapa kami
mengaguminya. Satu-satunya karena ia. Yang tidak peduli meski tumbuh dekat
ilalang yang terabaikan.
Pagi
itu, kalian mungkin belum sarapan. Mata yang belum menunjukkan sudut tangkap
retina pada kertas soal yang baru saja dibagikan. Otak yang belum tersetting
untuk berkontribusi menuangkan isinya
yang sejak tadi malam entah terisi atau tidak. Alhasil, pena yang sejak tadi
dipersiapkan hanya tampak beku dari tangan yang telah lama dingin di atas
ganggang motor. Baiklah, lebih baik memang saya kembali pada topik tulisan ini.
Ada kau, aku dan Dandelion.
Ima: “Dmnq? Bawaka dandelion”
*bergeming*
*masih
bergeming*
*menatap
soal tajam*
*dimulai*
*SELESAI*
Saya:
“Manami?”
Ima:
(senyam-senyum gaje, sama seperti kalian yang belum sarapan) “Lama sekaliki, habismi
kutiup”
Sebagian
cerita disensor demi keamanan bersama.
***
Dan
akhirnya cerita berlanjut, dengan memperlihatkan ini:
![]() |
| Indah bukan? |
Bola-bola putu *oke ini versi gaje* atau yang wikipedia katakan sebagai Randa Tapak atau yang dikenal dengan nama Dandelion, adalah bagian dari Taraxacum, sebuah genus besar dalam keluarga Asteraceae. Nama Randa Tapak sendiri biasa digunakan untuk merujuk kepada sebuah tumbuhan yang memiliki bunga, dan meiliki bunga-bunga kecil yang terbang ditiup angin. Asal asli tumbuhan ini adalah Eropa dan Asia, namun sudah menyebar ke segala tempat (termasuk Takalar). Yang disebut sebgai bunga dari tumbuhan ini menjadi semacam jam hayati yang secraa teratur melepaskan banyak bijinya. Biji-biji ini sesungguhnya adalah buahnya.
Kira-kira benar bunga ini mengajarkan kita
tentang banyak hal. Tentang kekuatan, keikhlasan, dan kebertahanan. Dandelion tidak pernah bertanya
kepada lorong-lorong angin akan kemana ia diterbangkan. Yang ia tahu, ia percaya walau itu gelap. Ia
percaya karena ia bersahabat dengan angin. Angin satu-satunya saksi ketangguhan
dirinya yang ditakdirkan untuk hidup lalu mati. Tanpa angin, mana bisa
Dandelion menari sebegitu menawannya? Mana bisa membuat saya dan Ima terkesima
memerhatikannya dan sempat mengira itu rambut setan. Hei, kami itu sotta
berpangkat. Terlebih sahabat saya itu. Entah seberapa kali kami berasumsi gaje
tentang si bola-bola putu. Menganggap dia inilah, itulah. Terlebih dari misteri
siklus hidupnya yang sebegitu riweuhnya bagi kami. Sampai-sampai sempat-sempatnya
ada yang beranggapan “apa iya, dalam satu pohon, ada dandelion yang warnanya
kuning dan putih?” *haha kalau dipikir-pikir yang bilang ini polos juga :p*
Akhirnya
proses ke-sotta-an yang berhujung bahagia. Walau beda jenis, satu genus Taraxacum-pun
kami tetap bahagia melihatnya. Mereka bertaburan di kampus kami. Memang benar
meniup jentik dandelion adalah hal yang mengasyikkan, tapi tetap kode etik
kebiologiaan *so iya, emang ada? :p* tetap harus kami patuhi (tampaknya cuma
saya, Ima jurusan keangka-angkaan rupanya). Halah.
Eits,
tau tidak. Ada banyak hal yang membuat kami, dari hari ke hari semakin
mengaguminya. Double W sudah menjadi rutinitas saat melihat mereka menjemput
kedatangan kami di parkiran. Tak jarang, kami (saya dan Ima) berlomba memetik
bunga yang baru saja tumbuh (baru tumbuh? Ya iya, secara yang kemarin sudah
dipetik duluan) =.=
Yoi,
hal-hal itu nangkring di bawah:
Pertama,
tarian bunga yang menawan. Percaya? Sudah baca kan info dari Om Wiki tadi,
katanya asal asli Dandelion itu adalah Eropa dan Asia. Tapi kini, kita bisa
berjumpa dengannya di penjuru dunia manapun. Jangankan di dunia, di Takalar
saja ada (Takalar memang bukan dunia, tapi kota *info penting*) Itu karena
Dandelion bisa menari bersama angin. Melintasi pulau demi pulau, benua demi
benua, sampai samudra sekalipun *hati-hati dengan unsur hiperbolis*.
Kedua,
siklus hidupnya yang filosofis BGT. Terlihat
dari kemenawanan tariannya, jentik Dandelion memang selalu menemani
lorong-lorong angin berdansa bersama. Melawan gravitasi, untuk menuju langit. Ada
yang terbang ke atas bukit, kemudian jatuh di lembah pegunungan. Ada yang
terbang melintasi sungai kemudian terbawa arusnya, dan terperangkap di
pinggiran taman kota. Namun, tahukah kalian, perjalanaan hidup dandelion tidak
sampai di situ. Kemanapun dan sejauh apapun angin menerbangkannya, jentik halus
dandelion akan tetap hidup. Tak peduli seperti apa tempat yang disediakan
untuknya, mereka akan tetap bertahan, akan terus tumbuh menjadi
dandelion-dandelion baru. Dandelion yang siap menerbangkan kembali
harapan-harapannya pada lorong-lorong angin.
Ketiga,
kebebasan yang tidak tergantikan. Kenal mawar? Melati? Anggrek? Atau bunga bangkai? Atau terserah kalian bunga apa yang kalian
kenal. Mereka (sekumpulan bunga kalangan atas) yang tengah memperebutkan gobel
awards dengan nominasi bunga terindah, terwangi, termahal, terpaling diminati,
dan terpaling dijauhi (biar bunga bangkai bisa masuk nominasi juga). Ada
Dandelion dengan kesederhanaannya yang tidak akan berganti posisi dengan
mereka. Kurang lebih Dandelion akan bilang seperti ini “maaf sob, kebebasan itu
mahal”. Haha. Ya kan? Faktanya memang iya. Sampai saat ini, ada tidak manusia
yang sengaja memberi Dandelion pupuk kompos, vitamin, atau ditaruh di jambangan
mahal layaknya Si Mawar maafin Marwan yah. Wkwk.
Keempat,
nggak pasaran. Cari saja di pasar dijamin tidak ada yang jual.
Kelima,
sebagai obat hati yang paling baik. Kononnya, akar Dandelion ini efektif
meningkatkan aliran empedu, memperbaiki kondisi kongesti hati, inflamasi
saluran empedu, hepatitis, dan batu empedu. Berhubungan dengan hati kan? Hayoo,
ada yang patah hati? :p
Keenam,
metamorfosa bunga ini KEREN (melambaikan tangan pada kupu-kupu, kalian punya
saingan cin). Cekidot.
Dan
terakhir (sebenarnya masih banyak lagi), heiii ternyata Dandelion punya banyak
fans. ^^ Cari saja di Opung Gugel dengan keyword “Dandelion”, dijamin satu
persatu muncul baik dalam bentuk puisi, cerita, sampai tulisan galau
pemiliknya. Tidak salah Dandelion memang multi fungsi. Haha. Sampai jumpa.


0 komentar:
Posting Komentar